Seksologi

Dituduh Mengidap HIV, Lalu Bagaimana Sebenarnya Kita Bisa Tahu Terinfeksi?

Minggu, 26 Mei 2019 | 11:51 WITA

bbn/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
 "Dok, adik saya, perempuan, masih ABG, dituduh teman-temannya menderita HIV, karena salah satu mantan pacarnya dibilang sudah HIV duluan. Menurut saya itu jelas tidak mungkin, karena adik saya masih tampak sehat-sehat saja, tidak sedang sakit dan tidak ada yang berubah pada dirinya. Walau saya pernah diceritakan sama dia kalau selama ini dia sudah pernah berhubungan seksual dengan tiga cowok terakhirnya. Tetapi, banyak juga yang bilang kalau adik saya memang mungkin menderita HIV, apa bisa itu terjadi dok?”  (Agus, 28)

Pilihan Redaksi

  • YKI Badung Gelar Pembinaan Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna
  • Kasus HIV/AIDS di Denpasar Terdeteksi 1000 Kasus Per-Tahun Dalam 2 Tahun Terakhir
  • Alyssa Milano Serukan Mogok Seks
  •  
    Jawab: Di beberapa kesempatan dan media juga beberapa kali saya coba diskusikan tentang hal ini, karena pertanyaan serupa ini sering dan masih banyak ditanyakan. Jika dilihat kasus ini, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama penyebutan tentang menderita HIV adalah keliru, yang benar adalah mengidap HIV atau dapat juga disebut ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Kenapa keliru, karena sesungguhnya seseorang yang terinfeksi oleh HIV tidaklah langsung menunjukkan gejala sakit, malah sering kali terlihat tetap sehat, bertahun-tahun lamanya. 
     
    Jadi tidak ada katagori “menderita” sakit sama sekali. Sering kali, pengidap HIV tidak mengetahui kalau dirinya sudah tertular HIV. Satu-satunya jalan hanya bisa diketahui lewat tes darah. Ini akan berlangsung bertahun-tahun lamanya, bisa hingga sepuluh tahun tanpa gejala, sampai suatu saat mengalami penurunan daya tahan tubuh yang sangat drastis dan banyak penyakit baru muncul, seperti batuk terus menerus, diare tidak sembuh-sembuh, badan mengurus, kanker kulit, jamur di rongga mulut dan masih banyak lagi. 
     
    Pada keadaan yang sudah terlihat sakit ini, pengidap HIV sudah masuk ke dalam sebutan fase AIDS yang perlu perawatan. Jadi saat terinfeksi HIV masih sehat, tetapi bertahun berikutnya baru muncul infeksi oportunistik, saat itu disebut AIDS. Yang perlu diketahui saat ini adalah, semua orang yang berisiko tertular HIV, baik itu yang suka gonta-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan kondom, yang pernah menggunakan jarum suntik tidak steril misalnya menggunakan narkoba suntik bersama-sama, mereka yang memiliki pasangan seksual yang sudah lebih dulu terinfeksi HIV atau ibu yang mengidap HIV dan sedang hamil, semuanya sebaiknya memeriksakan dirinya atau pasangannya atau anaknya nanti, supaya mengetahui status HIV dalam darahnya.
     
    Dengan melakukan pemeriksaan akan menjadi lebih baik buat masa depan, karena jika ternyata tidak terinfeksi maka dapat selalu melakukan pencegahan dan jika ternyata terinfeksi justru akan mendapat kesempatan mandapatkan pendampingan, dukungan termasuk di saat yang tepat akan diberikan obat ARV, yang cukup menggembirakan, karena jika diminum teratur dan disiplin akan bisa mempertahankan kualitas hidupnya. HIV memang belum dapat dibunuh oleh obat ARV, tetapi perkembangbiakannya dalam tubuh bisa distop oleh ARV, sehingga tubuh akan tetap terjaga kualitas dan daya tahannya. Asal minumnya teratur dan disiplin. 
     
    Dalam kasus ini, sebaiknya yang bersangkutan melakukan tes darah, termasuk juga pacarnya, karena mereka sudah melakukan hubungan seksual, bahkan dengan riwayat gonta-ganti pasangan seksual. Sudah termasuk kalangan berisiko tinggi tertular HIV, karena bisa saja dari salah satu pasangan seksualnya ada yang telah mengidap HIV. Sebagai catatan, kelompok usia remaja dan dewasa muda adalah kelompok tertinggi dari pengidap HIV di Indonesia dan di dunia. 
     
    Pacarnya, sebagai pasangan seksualnya pun sebaiknya melakukan tes darah yang sama. Akan jauh lebih baik juga dilakukan tes laboratorium untuk diperiksakan juga ada tidaknya infeksi menular seksual, karena banyak remaja sudah terkena. Sesungguhnya kenapa semua bisa terjadi? Ada banyak faktor. Mudahnya dibagi dua saja. Yang pertama faktor internal, dari diri si remaja usia sekolah ini. 
     
    Remaja adalah fase usia yang masih labil, mudah terpengaruh, sering coba-coba dan ikatan sebayanya sangat kuat. Jadi jika remaja yang masih labil sudah terpapar dengan mitos dan informasi seksual yang menyesatkan apalagi itu diajak oleh kelompok sebayanya, seringkali remaja akan terpengaruh tanpa berpikir panjang risiko dan akibatnya. Yang kedua adalah faktor eksternal, banyaknya godaan buat remaja untuk terlibat hubungan seksual sebelum waktunya atau aktifitas seksual yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
     
    Banyaknya media yang menayangkan muatan seksual, mulai dari TV, DVD, majalah, komik, internet, dan lain-lain, hingga fasilitas publik yang juga sering kali menggugah minat dan peluang untuk melakukan aktifitas seksual, seperti taman-taman terbuka, kamar kos, hotel, hingga bilik warnet. Tidak ada yang salah dengan fasilitas tersebut, selama digunakan dengan benar dan pengawasan yang benar, tetapi mengingat dorongan seksual pada usia remaja adalah sesuatu yang sangat alami, adanya godaan seksual yang besar, ketidak pahaman remaja tentang keadaan tumbuh kembang, kesehatan reproduksi dan seksualnya, hingga lemahnya kontrol keluarga dan masyarakat, seringkali membuat mereka terjatuh dalam praktek perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab.
     
    Lalu bagaimana menghadapi dan mencegah akibat buruk ini semua pada remaja? Ada 5 jurusnya. Jurus ABCDE. Mudah disebutkan, tapi seringkali banyak yang mengabaikan. Ini yang perlu diedukasikan dengan gencar buat remaja. Jurus ABCDE itu adalah: A atau Abstinence, artinya remaja jangan dulu berhubungan seksual, karena saking besarnya risiko yang seringkali tidak dipahami sebagai konsekuensi hubungan seksual. 
     
    Semua pihak perlu berperan untuk dapat mengajak remaja dapat tetap menunda hubungan seksual pranikah dengan memperbanyak aktivitas membangkitkan hobi positif seperti olahraga, musik, seni teater, seni beladiri dan banyak aktifitas hobi lainnya, termasuk berorganisasi yang positif.
     
    B atau Be faithful, artinya tetap setia dengan satu pasangan. Jika remaja sudah berpacaran selalu ditekankan untuk setia dengan pasangannya, dan pihak dewasa juga harus bisa memberikan contoh yang baik buat remajanya. Seringkali remaja tidak setia dengan pasangannya karena meniru apa yang dilihat di media atau melihat contoh buruk dari orang dewasa.
     
    C atau Condom, artinya menggunakan proteksi spesifik untuk remaja yang kadung berisiko, misalnya remaja yang sering mencari pekerja seks, remaja yang gonta-ganti pasangan seksual. Tidak ada jalan lain, karena tidak mudah mengajak mereka kembali ke pilihan Abstinenc

    Pilihan Redaksi

  • Hidup Kedua Ni Komang Sariadi
  • Nikmati Wisata Anti Mainstream di Bali
  • Citra Tubuh Ideal Dipengaruhi Terpaan Media
  • e. Dan penggunaan kondom untuk remaja berisiko juga perlu dipahami dan diedukasi secara benar agar benar-benar tepat sasaran, demi pencegahan infeksi menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.
     
    D atau Don`t inject, memiliki arti jangan menggunakan jarum suntik secara sembarang, termasuk juga yang paling harus dihindari adalah penggunaan jarum suntik untuk narkoba. Dan secara keseluruhan narkoba sangat dilarang untuk digunakan, bahkan sekedar untuk dicoba. Jangan pernah.
     
    E atau Education, artinya mencari informasi yang benar pada sumber dan orang yang berkompeten. Seringkali banyak mitos yang dipercaya remaja. Dan remaja juga sering sangat percaya dengan informasi yang diberikan rekan sebayanya yang sebagian besar masih keliru dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bertanyalah kepada lembaga dan orang yang terlatih untuk menjawab pertanyaan seputar kesehatan repoduksi dan seksual, termasuk jika mengalami keluhan seksual. (bbn/dr.Oka Negara,FIAS/rob)

    Penulis : Dokter Oka Negara

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Dituduh Pengidap HIV AIDS Seksologi



    Seksologi Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Seksologi

    Berita Bali TV