Seksologi

Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Suami Kewalahan Hadapi Istri Yang Hiperseks

Minggu, 30 Juni 2019 | 10:45 WITA

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Tanya: "Dok, banyak yang bilang kalau dorongan seksual laki-laki itu katanya lebih tinggi daripada perempuan, tetapi saya dan istri kok berbeda ya? Istri saya yang dorongan seksualnya malah berlebihan menurut saya, yang akhirnya membuat saya kewalahan. Hampir setiap hari istri saya mengajak saya bercinta, dan saya tidak selalu bisa memenuhi keinginannya. Bagaimana ini dok, bisa jelaskan tentang dorongan seksualnya ini? Hiperseks kah istri saya?" (Beny, Surabaya, (28)

Pilihan Redaksi

  • Harga Mulai 199 Juta, DFSK Glory 560 Meluncur di Pulau Dewata
  • Penjualan Perhiasan Emas di Bawah Rp50 Juta Mengalami Peningkatan
  • Stop "Bullying" Melalui Tri Pusat Pendidikan
  • Disebut Salah Satu Bali Baru, Morotai Tonjolkan Spot Diving dan Fasilitas Glam Camp
  • Jro Mangku Nyoman Tikam Perut Istrinya Hingga Tewas
  •  
    Jawab: Hiperseks merupakan perilaku seksual yang tidak umum ditandai dengan tingginya keinginan untuk melakukan hubungan seksual dan sulitnya mengontrol keinginan seks tersebut. Ini masuk dalam katagori gangguan seksual atau disfungsi seksual, dengan katagori dorongan seksual yang meningkat. Hiperseks dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki disebut satyriasis, sedangkan pada perempuan disebut nymphomania.
     
    BACA JUGA : Lebih Bagus "Kering dan Kesat" atau "Basah" ?
     
    Dorongan seksual atau juga disebut libido, merupakan komponen seksual yang utama, karena tanpa adanya dorongan seksual atau jika dorongan seksual menurun, hubungan seksual yang merupakan kebutuhan dasar ini tidak dapat berjalan baik, yang akan mengganggu pencapaian kepuasan seksual dan keharmonisan, yang tentu saja akhirnya mengganggu kualitas hidup manusia secara umum. Sebaliknya juga bila salah satu pasangan ternyata dorongan seksualnya sangat tinggi, tidak berimbang, akan membuat masalah dalam kehidupan seksual dan kualitas hidupnya. Jadi, dorongan seksual itu sangat penting bagi kehidupan, karena besar porsinya dalam menentukan kualitas hidup. 
     
    Ada empat faktor yang mempengaruhi dorongan seksual atau libido yaitu level hormon testosteron, keadaan kesehatan secara umum, faktor psikis, dan pengalaman seksual sebelumnya. Kalau semua faktor tersebut mendukung, disertai stimulus atau rangsangan seksual yang kuat, maka dorongan seksual juga akan optimal. Sedangkan sebaliknya, jika keempat faktor itu ada gangguan, akan membuat gangguan juga pada dorongan seksual. 
     
    BACA JUGA : Ingin Operasi Ganti Kelamin, Apa Saja Risikonya?
     
    Seseorang yang mengalami hiperseks akan menunjukkan perilaku yang tidak pernah merasa puas saat berhubungan seks, walaupun sudah mengalami orgasme. Karena sering merasa tidak puas, akibatnya sering juga mencari orang lain yang bukan pasangannya untuk diajak berhubungan seks. Walaupun tidak mudah buat mendiagnosis seseorang mengalami hiperseks, tetapi bisa jadi seorang yang mengalami hiperseks menunjukkan gejala dan tanda sebagai berikut:
     
    1. Tidak pernah merasa puas saat berhubungan seks, walaupun sudah mengalami orgasme.
     
    2. Tidak pernah merasa cukup dengan satu pasangan.
     
    3. Dorongan seksual seringkali tidak bisa ditunda dan tidak bisa dikontrol.
     
    4. Sangat tergila-gila dengan hal-hal yang berhubungan dengan seks
     
    Apakah berminat untuk melakukan hubungan seks setiap hari sudah bisa disebut hiperseks, seperti yang dikisahkan di kasus di atas, tentu perlu dicermati kembali. Dorongan seksual untuk berhubungan seksual pada orang kebanyakan, sangat bervariasi pada pasangan satu dengan lainnya. Tergantung dari usia, lama hubungan, hingga pemahaman yang bersangkutan terhadap seks. Intinya, selama hubungan yang dilakukan disepakati bersama dan tidak ada yang merasa disakiti, maka hubungan seksual silakan dinikmati terus. Dan hubungan seksual yang dilakukan setiap hari belum tentu itu hiperseks. Kecuali keinginan berhubungan seksual itu muncul setiap saat, tanpa bisa dikontrol dan dilakukan tidak hanya dengan pasangan sendiri, kemungkinan baru bisa diduga hiperseks.
     
    Penyebab hiperseks bisa jadi adalah karena trauma masa kecil, baik dari lingkungan keluarga atau sekolah atau teman masa kecil. Kalau penyebabnya trauma psikologis, biasanya adalah kekerasan yang berkaitan dengan pelecehan dan agresi seksual yang membuatnya menjadi mengalami inferioritas dan sebagai self defence mechanism untuk mengatasi inferioritasnya justru berbalik menjadi upaya kompulsif impulsif menguasai orang lain secara seksual.
     
    Sedangkan penyebabnya secara fisik yang sering ditemukan adalah gangguan karena cidera pada area limbik atau di bagian lobus temporalis otak, yang mana pada daerah ini adalah pusat kesenangan, jika ada benturan atau cidera pasca operasi bisa diduga menyebabkan dorongan seksual yang meningkat. Satu lagi adalah level dan paparan hormon testosteron yang berlebih, tetapi angkanya belum disepakati, baik pada laki-laki maupun perempuan yang bisa jadi paparan sudah terjadi sejak bayi dalam kandungan, akibatnya terjadi agresifitas seksual yang cenderung meningkat.
     
    Pada pasangan yang berusia muda, tentu saja frekuensi hubungan seksual bisa sangat sering dilakukan bahkan bisa berkali-kali dalam sehari. Selama itu dinikmati bersama, sekali lagi silakan saja, nanti juga berjalan dengan waktu akan mengalami kebosanan untuk melakukannya setiap hari. Jadi nanti akan bisa dilihat, ada pasangan yang berhubungan seks setiap hari, seminggu dua kali, seminggu sekali atau malah dua minggu sekali atau kapan sempatnya. Semuanya tidak masalah selama dilakukan dengan pasangannya dan masing-masing pihak merasa dipuaskan dan tidak mempermasalahkannya.
     
    BACA JUGA : Oknum Bidan Masukkan Mentimun ke Vagina, Ini Penjelasan Seksolog Bali
     
    Sebenarnya dorongan seksual antara laki-laki dan perempuan sama saja. Selama faktor-faktor yang mempengaruhi dorongan seksual tidak terganggu, maka dorongan seksual juga tentunya tidak bakal ada masalah. Banyak persepsi yang keliru yang bilang dorongan seksual perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Jangan salah, perempuan juga memiliki hormon seks testosteron dalam tubuhnya yang dihasilkan oleh indung telur dan kelenjar anak ginjal. Jadi, selama tidak ada masalah dengan level hormon testosteron, kesehatan umum tubuh juga baik, tidak ada masalah dengan psikis dan tidak memiliki pengalaman seksual di masa lalu yang traumatik, sebenarnya antara laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya dalam hal dorongan seksual atau libido. Demikian juga sebaliknya, jika ada masalah maka laki-laki dan perempuan bisa menjadi seorang hiperseks.
     
    Jadi, sesungguhnya sama saja pada semua jenis kelamin dan orientasi. Ada yang bilang pada laki-laki kelainan disebabkan oleh faktor fisik maupun psikis, dengan aspek fisiknya salah satunya akibat peradangan di saluran kemih yang merangsang dorongan seksual menjadi meningkat, tentu itu sangat keliru. Justru akibat keradangan malah membuat dorongan seksual menjadi menurun. Jadi untuk laki-laki dan perempuan, hiperseks secara dominan disebabkan oleh aspek psikis. Kalaupun ada penyebab fisik, sering kali adalah gangguan kinerja otak, yang juga bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan. Kalau dilihat dari usia, tentu saja frekuensi lebih tinggi berhubungan seksual ada di usia yang lebih muda, semakin tua frekuensi hubungan seksual menjadi lebih menurun sejalan proses penuaan.
     
    Kebanyakan orang yang mengalami hiperseks tidak menyadari bahwa dirinya mengalaminya, sampai ada orang yang menyadarkannya. Hiperseks bisa diakibatkan karena adanya gangguan psikoseksual atau trauma yang terjadi pada masa kecil. Trauma masa kecil ini bisa berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan permainan saat kecil atau lingkungan sekolah.
     
    Bagi seorang hiperseks, jika sedang bergairah dan kemudian tidak bisa melampiaskannya, orang yang hiperseks akan kecewa, cemas, dan sedih. Mereka memang kesulitan menunda keinginan seksnya. Jadi, kabar buruknya adalah, pada umumnya orang yang mengalami hiperseks tidak bisa dengan mudah disembuhkan. Pengobatan atau rehabilitasi terhadap kondisi psikologis yang ada hanya bisa mengurangi atau melatih untuk mengontrol keinginan seksnya yang sangat besar. Tetapi memang masih ada upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mengurangi d

    Pilihan Redaksi

  • Telkom Cabang Denpasar Akui Ada Gangguan Teknis Sistem PPDB SMP
  • Ortu Keluhkan PPDB SMP "Cacat", Walikota Keluarkan Diskresi
  • Jika Domisili Tak Sesuai, Otomatis Data Siswa Gugur
  • Pendaftaran ke Sekolah "Favorit" Masih Membludak
  • PDI Perjuangan Sudah Kantongi Nama Pendamping Komang Sanjaya untuk Pilkada
  • an mengontrol keinginan seksual orang yang mengalami hiperseks, salah satunya yaitu dengan cara menelusuri trauma seksual masa kecil yang dialaminya dengan melakukan konseling ke ahli psikologi seksual dan menterapinya.
     
    Andaikan yang terjadi adalah rasa jenuh dengan pasangan, sebaiknya semua dibicarakan dan dicari solusi bersama. Dan solusi itu bukanlah mencoba hubungan seks dengan orang lain yang bukan pasangan. Kejenuhan seks dengan pasangan bisa diatasi dengan mengubah penampilan, mengubah variasi rangsangan, variasi posisi dan suasana, bersama pasangan. 
     
    BACA JUGA : Kencing Nyeri dan Keluar Nanah, Itu Sifilis atau Gonore?
     
    Tetapi jika ternyata pasangan memang seorang hiperseks yang tidak bisa sama sekali mengontrol dorongan seksnya, maka memang perlu bantuan dari ahlinya untuk menelusuri penyebab hingga dicari solusi jika ada trauma di masa lalu, atas kesadaran bersama untuk memulihkan diri, termasuk menerima apapun hasilnya. Terkadang jika pengidapnya benar-benar dalam keadaan gelisah dan perlu penenang, yang diduga terdapat kecemasan dan gangguan bipolar, bisa digunakan obat golongan antidepresan SSRI (selective serotonine reuptake inhibitors) karena bisa jadi ada gangguan di serotonin. Tetapi bila diduga terdapat peningkatan testosteron, dipertimbangkan juga diberikan antiandrogen. [bbn/dr. oka negara/psk]

    Penulis : Dokter Oka Negara

    Editor : Putra Setiawan


    TAGS : Seksologi Okanegara Bali



    Seksologi Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Seksologi

    Berita Bali TV