Seksologi

Ada Kepuasan Seksual Dibalik Menakuti Orang Lain dengan Masturbasi?

Minggu, 24 November 2019 | 20:00 WITA

bbn/ilustrasi

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
"Dok, saya baca ada kasus di Tasikmalaya seorang laki-laki memperlihatkan kelaminnya kepada beberapa perempuan, bahkan sambil onani dan melemparkan cairan spermanya. 

Pilihan Redaksi

  • Alat Bantu Seks dari China Kini Menjamur di Bali
  • Seks "Threesome", Wajar Atau Ada Bahayanya?
  • Heboh Kasus Guru "Threesome" di Buleleng, Ini Penjelasan Seksolog Bali
  • Ngeri rasanya, Dok. Saya jadi ingat dulu pernah melihat hal serupa saat masih SMP, ada laki-laki mendadak muncul dari sebuah gang, membuka celana memperlihatkan kelaminnya sambil masturbasi di hadapan saya dan teman-teman yang lewat. Semua pada takut dan kabur. Itu sakit jiwa, Dok? Bahaya buat kami nggak? Dan apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan yang seperti itu lagi? (Anik, 23).
    Jawab:Perilaku seksual ini perlu ditelusuri dan dipastikan lagi, apakah berulang dan tanpa kendali terjadi, atau hanya sekali saja berupa keisengan. Jika terjadi berulang dan tanpa kendali, ini kemungkinan masuk ke dalam salah satu jenis parafilia atau kelainan seksual yang disebut eksibisionisme.
    Gangguan Eksibisionisme merupakan gangguan kesehatan mental dengan fokus mengekspos alat kelamin seseorang untuk mendapatkan kepuasan seksual. Biasanya orang yang menderita Gangguan Eksibisionisme klasik atau yang umum akan menunjukan alat kelaminnya kepada orang asing yang tidak dikenal dan tidak memiliki kecurigaan sama sekali kepadanya, khususnya kepada kaum ibu-ibu dan anak –anak.
    Yang paling sering melakukannya adalah laki-laki dengan menunjukkan alat kelaminnya kepada perempuan dan anak-anak dan sebagian besar kepada perempuan muda. Tindakan memamerkan alat kelamin juga biasanya disertai dengan gerakan merangsang diri sendiri untuk memunculkan kepuasan sendiri. Penderita kelainan ini disebut eksibisionis. 
    Seorang eksibisionis merasa mendapatkan kenikmatan seksual ketika ia menunjukkan alat kelaminnya di depan orang lain kemudian orang lain menunjukkan reaksi kaget ataupun ketakutan terhadap kejadian tersebut. Gangguan eksibisionisme ini biasanya berawal sejak pubertas. 
    Sejak muncul dorongan seksual yang optimal di usia remaja. Dorongan untuk memamerkan alat kelaminnya sangat kuat dan hampir tidak dapat dikendalikan oleh penderitanya, terutama ketika mereka mengalami kecemasan dan saat muncul gairah seksual. Pada saat memamerkan alat kelaminnya, seorang eksibisionis tidak mempedulikan konsekuensi sosial dan hukum dari tindakannya. 
    Dalam beberapa kasus tindakan eksibisionisme ini juga diikuti dengan tindakan masturbasi saat melihat ekspresi dari korban yang takut dan gelisah yang merupakan kepuasan seksual bagi pelaku tersebut. Pada kasus yang di Tasikmalaya malah diduga sampai melemparkan cairan sperma, yang berarti jika itu benar, si eksebisionis mengalami ejakulasi dari aksinya.
    Karena banyaknya korban yang merasa dirugikan dan merasa dilecehkan dan mengalami trauma atas tindakan eksibisionisme ini, tindakan ini kemudian dapat juga dilaporkan sebagai sebuah kasus pelecehan seksual. Sebenarnya orang dengan gangguan eksibisionisme justru mengalami perasaan tertekan atau distress atas gangguannya tersebut, dan hal ini bukan sekedar berasal dari perasaan tertekan karena melakukan pelanggaran norma sosial-budaya. 
    Kriteria Gangguan eksibisionisme adalah jika terjadi:  berulang, intens, dan terjadi selama 6 bulan, berupa kejadian adanya fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memamerkan alat kelamin kepada orang lain yang tidak dikenalnya. 
    Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi menyebabkan orang tersebut sangat menderita atau mengalami masalah interpersonal. Karena tujuan seorang pengidap eksebisionisme sebenarnya adalah mendapatkan reaksi takut dan cemas dari orang lain yang membuatnya merasa puas secara seksual. 
    Jika menemui kejadian tersebut berusahalah tetap tenang dan perlahan pergi ke tempat ramai. Selanjutnya hindari kemungkinan tempat keberadaan si eksibisionis sering "mangkal" untuk melakukan aksinya. Dan sebisa mungkin tidak berjalan sendirian ke tempat yang sepi untuk mencegah hal buruk.
    Jika ternyata apa yang dilakukan si eksibisionis sangat mengganggu dan meresahkan hingga terjadi gangguan fisik atau dapat membuat tekanan, dapat dilakukan ke pihak berwajib, untuk kemudian si eksebisionis mendapatkan tindakan semestinya dan juga terapi kesembuhan. 
    Jika dibutuhkan terapi, yang bisa dilakukan adalah Cognitive Behavioral Therapi atau terapi perilaku. Kalau misal korban berusaha melawan dengan mengejek atau menakut-nakuti balik pelaku dengan gangguan eksibisionisme apakah akan berbahaya, reaksinya adalah beragam tergantung kepribadian dan kondisi saat itu. Bisa dia berhenti dan malah pergi, tetapi bisa juga malah kecewa karena keinginan mendapatkan kepuasan terhenti.
    Bisa ada kemungkinan melakukan tindakan agresif juga yang bersifat fisik. Kecuali memang di dekatnya ada keramaian publik, sebaiknya dapat memilih berlari. Kalau tempatnya sepi jauh dari keramaian mendingan diam dan berlalu perlahan dan tetap tenang. Seorang eksibisionis tidak akan menyerang korbannya secara seksual atau melakukan perkosaan. Karena kepuasan seksual yg didapatkan hanya dari melihat orang lain takut karena aksinya. 
    Makanya eksebisionisme ini masuk ke parafilia. Lebih menyukai aksinya daripada berhubungan seksual biasa. Lalu apakah gangguan seperti itu bisa dideteksi dok oleh orang terdekatnya? Sering susah terdeteksi kecuali melihat langsung dan ada pengakuan. 
    Demikian juga terapi, baru bisa dilakukan jika yang bersangkutan yang ingin diterapi atau pas kejadian ketahuan publik seperti kasus ini. Orang dengan gangguan ini tidak bisa dipaksa terapi kalau bukan kemauannya, sebagian besar malah menikmatinya dan merasa tidak perlu diterapi. Kecuali ada kesadaran sendiri atau permintaan orang lain misal keluarga atau dari pihak kepolisian karena kasus yang terlaporkan.

    Penulis : Dokter Oka Negara

    Editor : I Komang Robby Patria


    TAGS : Kepuasan Seksual Menakuti Orang Lain Masturbasi Eksibisionis



    Seksologi Lainnya :


    Berita Lainnya

    Trending Seksologi

    Berita Bali TV