Seksologi

Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Hari AIDS dan Maraknya Perilaku Seksual Nyeleneh di Media

Minggu, 01 Desember 2019 | 16:20 WITA

beritabali.com/ist/shutterstock

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   
Beritabali.com, DENPASAR.
Tanya: “Dok, Tanggal 1 Desember kan selalu diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, saya lagi-lagi terkejut membaca berita bahwa Bali masih masuk lima besar angka pengidap HIV dan AIDS di Indonesia. Dan saya sepakat jika yang perlu diperhatikan adalah justru penyebab infeksi ini yang berasal dari hubungan seksual yang berganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, dan malah banyak kasus perilaku seksual yang nyeleneh tidak wajar dok. Sempat ada guru yang mengajak siswanya untuk seks bertiga bareng pacar si guru, sebelumnya terkenal kasus Vina Garut yang juga seks berganti-ganti laki-laki, dan yang terbaru viral video seks 40 detik adegan 3 in 1, satu remaja perempuan berhubungan seksual di sebuah hotel dengan 3 laki-laki. Menurut dokter fenomena apa ini dan bagaimana solusinya buat semua ini, Dok? (Anto, 19, Denpasar)

Pilihan Redaksi

Jawab: Benar sekali, tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia, itu artinya tanggal ini diperingatkan lagi buat kita semua untuk tetap waspada dan peduli terhadap permasalahan HIV dan AIDS yang hingga hari ini masih banyak hal yang perlu dikerjakan, mulai dari pemberian informasi yang benar dan memberantas mitos dan hoax, deteksi dini dan pengobatan HIV, pendampingan pengidap HIV, pemberdayaan komunitas-komunitas dan kelompok peduli AIDS, dan masih banyak lagi. Dan juga benar bahwa Bali saat ini masuk lima besar dari propinsi yang ada di Indonesia dengan jumlah pengidapnya sudah melebihi dua puluh satu ribu orang di tahun 2019. Tetapi angka tersebut memiliki banyak makna, bisa juga berarti karena pemerintah propinsi Bali sudah berhasil mengajak masyarakat untuk aktif memeriksakan dirinya, sehingga semakin banyak yang terdeteksi terinfeksi HIV, dan selanjutnya bisa dengan lebih efektif melakukan pendampingan, pengobatan, dan pencegahan ke lingkungan terdekat dari yang mengidap HIV. Di awalnya malah Bali masuk peringkat pertama dan sempat juga marak kasus HIV tinggi dari penularan lewat jarum suntik narkoba, syukurnya sudah mulai bisa dikendalikan.
Memang saat ini yang kembali harus mendapatkan perhatian adalah penularan HIV lewat hubungan seksual, yang sering kali dilakukan tanpa menggunakan proteksi kondom. Belum lagi saat ini maraknya viral di media sosial adanya beberapa video seksual yang menampilkan aktivitas seksual yang tidak biasa, tidak cuma hanya berdua antara pasangan suami-istri atau pasangan yang sepakat untuk mengikatkan diri dalam hubungan kekasih. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena memang terjadi pergeseran gaya hidup, perbedaan persepsi terhadap hubungan seksual, dan adanya kemudahan untuk mendokumentasikan diri serta menampilkannya di media sosial. Sayangnya, yang direkam dan dibagikan ke public adalah sesuatu yang harusnya bersifat pribadi tanpa perlu dibagikan ke publik, walaupun sebenarnya yang ditampilkan bukanlah hal yang benar-benar baru.
Misalnya kasus seksual yang disebut melibatkan 3 orang sekaligus yang sering disebut "threesome", antara guru-pacar-dan siswinya, juga kasus yang dikenal dengan sebutan Vina Garut yang berisikan adegan seksual bertiga, bukanlah masalah baru. Demikian juga jika jumlah pelakunya lebih dari itu, seperti kasus video 3 in 1 yang disebut, di mana si pihak perempuan mau diajak berhubungan seksual dengan 3 laki-laki lain atas iming-iming ingin dibantu menjadi seorang model professional. Jaman dulu perilaku seperti ini juga sudah ada, dikenal dengan istilah “Salome” atau satu lobang rame-rame, atau dalam istilah barat dikenal dengan istilah gangbang, ini juga bukan hal baru, tetapi di jaman dulu bedanya tidak dapat direkam dan tidak dibagikan ke publik atau media sosial seperti jaman sekarang.
Sesugguhnya kemudian yang harus diketahui, justru berhubungan seksual dengan banyak dan berbeda-beda orang akan sangat rentan dengan kemunculan infeksi menular seksual termasuk HIV dan AIDS, karena dari banyak adegan yang terlihat dari video-video yang beredar hubungan seksual tidak dilakukan dengan menggunakan kondom. Di samping campur tangan kemudahan media dan adanya fasilitas untuk mendokumentasikannya yang sangat mudah, juga bisa dilihat dari penyebab internal, misalnya kepribadian dan pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan faktor eksterna, bisa berupa ajakan dan godaan dari lingkungan sebaya, ketidak pedulian keluarga, dan permisifitas masyarakat. Tetapi, sekali lagi, secara umum pengaruh gadget-lah yang sangat luar biasa. Karena semua hal bisa ditonton dan langsung ditiru, serta membentuk pemahaman seksualnya.
Jadi sesungguhnya setiap orang harus tahu tentang risiko yang dapat terjadi, mulai dari risiko fisik terkena penyakit, risiko psikis menjadi stress dan mengganggu pikiran sehat, hingga risiko sosial misalnya karena akhirnya ketahuan karena videonya beredar luas tanpa selama ini disadari bakal terjadi, bahkan bisa jadi juga ada risiko hokum yang bisa didapatkan.
Untuk saat ini, saya ikut mengingatkan akan maraknya kembali kemunculan kejadian atau angka baru infeksi HIV jika kita semua terlena dan tidak peduli terhadap pencegahannya. Buat yang belum paham informasi HIV, carilah informasi yang baik dan benar dari sumber yang dipercaya, selalu lakukan pencegahan. Ada rumus pencegahan yang disebut ABCDE dapat diterapkan. A, adalah Abstinence, adalah jangan dulu berhubungan seksual yang dapat diterapkan buat kalangan remaja dan yang masih bersekolah. Kemudian B atau Be faithful, yang artinya saling percaya dan saling setia dengan pasangan. Kemudian C atau Condom, yaitu harus gunakan kondom untuk setiap hubungan seksual yang berisiko atau gonta-ganti pasangan seksual. Berikutnya D, atau Don`t Inject, yang artinya jangan menggunakan jarum suntik, terutama jarum suntik narkoba, termasuk keseluruhan jenis narkoba. Dan terakhir E, atau Education, yaitu kembali lagi mencari informasi yang pendidikan yang benar tentang permasalahan seksual, kesehatan reproduksi, termasuk HIV dan AIDS.
Dan bagi yang sudah paham tentang pengetahuan HIV dan AIDS, marilah tetap semangat menyebarkan informasi tanpa henti, seperti hari ini sejak pagi banyak lembaga, kelompok, dan berbagai komunitas turun ke jalan buat kembali memberi informasi ke berbagai lapisan masyarakat, juga mari ikut mendampingi mereka yang telah terinfeksi, dan ikut aktif dalam berbagai aktifitas, kampanye, dan kembali aktif di komunitas-komunitas peduli AIDS. Karena peran komunitas peduli itu juga sangat menginspirasi karena sanggup melakukan banyak perubahan bermakna. Seperti tema Hari AIDS Sedunia tahun ini: Communities Make Differences.

Penulis : Dokter Oka Negara

Editor : Putra Setiawan


TAGS : Seksologi Okanegara Bali



Seksologi Lainnya :


Berita Lainnya

Trending Seksologi

Berita Bali TV